Kalau kamu pernah berpikir, “Laptop murah pasti lemot,” siap-siap berubah pikiran.
Karena hari ini kita akan bongkar satu fenomena menarik yaitu Advan Workplus, Laptop Lokal Murah dengan Performa Mengejutkan.
Bayangin kamu dapet laptop dengan RAM 16GB, SSD cepat, dan prosesor kelas H-series, tapi harganya masih di kisaran 7–8 jutaan.
Kedengarannya seperti “kesalahan sistem marketplace”, kan? Tapi ternyata, ini nyata.
Dan di artikel ini, kita akan kupas tuntas mulai dari performa hingga pengalaman pengguna. Yuk simak berikut!
Advan Workplus: Kenapa Laptop ini Murah?
Kalau dilihat sekilas, Advan Workplus ini memang terasa seperti “salah harga” dan itu bukan sekadar gimmick marketing.
Ada beberapa alasan yang kalau dibedah pelan-pelan, akan menjelaskan kenapa laptop ini bisa punya spesifikasi “tidak wajar” di kelas harganya.
- Pertama, kita mulai dari komponen paling mahal di laptop: prosesor. Biasanya, laptop di kisaran Rp6–8 jutaan itu pakai CPU seri hemat daya (seri U), yang fokus ke irit baterai, bukan performa. Tapi Workplus justru pakai Ryzen seri H seperti Ryzen 5 6600H yang notabene biasanya dipakai di laptop gaming atau laptop performa tinggi. Prosesor ini punya 6 core dan 12 thread dengan arsitektur modern, sehingga performanya jauh di atas rata-rata laptop murah . Singkatnya, di sini kamu sudah “dapat mesin balap di harga motor bebek”.
- Kedua, konfigurasi RAM dan storage-nya juga nggak pelit. Saat kompetitor masih kasih 8GB RAM, Workplus langsung lompat ke 16GB LPDDR5 dual-channel. Ini penting banget, karena RAM besar bukan cuma soal multitasking, tapi juga bikin performa iGPU (grafis bawaan) ikut meningkat. Ditambah SSD NVMe yang cepat dan bahkan masih bisa di-upgrade, ini bikin laptop terasa jauh lebih “lega napasnya” dibanding laptop lain di harga sama .
Nah, pertanyaan pentingnya: kok bisa murah?
Di sinilah strategi bisnisnya main. Brand seperti Advan bermain di efisiensi, bukan prestige.
Mereka tidak mengeluarkan biaya besar untuk branding global, distribusi internasional, atau marketing besar-besaran seperti brand besar.
Jadi biaya yang biasanya “tidak terlihat” di spesifikasi seperti iklan, brand value, dan R&D skala besar itu ditekan habis-habisan.
Bagaimana hasilnya?
Harga jual bisa jauh lebih rendah meskipun spek tinggi.
Selain itu, banyak laptop seperti ini menggunakan pendekatan ODM (Original Design Manufacturer).
Artinya, desain dan sebagian hardware berasal dari pabrikan yang sama dengan brand lain, lalu di-“rebrand”.
Ini bukan berarti jelek justru ini salah satu alasan kenapa harga bisa ditekan tanpa harus bikin semuanya dari nol.
Dengan produksi massal dan desain yang sudah jadi, biaya produksi bisa jauh lebih efisien.
Faktor berikutnya adalah positioning produk. Workplus jelas tidak mencoba “terlihat mewah”, tapi fokus ke performa mentah.
Jadi ada beberapa hal yang mungkin tidak semewah laptop mahal misalnya material bodi campuran, layar yang standar (bukan OLED atau high refresh rate tinggi), atau fitur premium yang dipangkas.
Dengan kata lain, uang kamu benar-benar “dipindahkan” ke performa, bukan ke kosmetik.
Menariknya lagi, kalau dibandingkan secara langsung, laptop ini sering disetarakan dengan laptop harga Rp10–13 jutaan dari brand global.
Jadi gap harga itu bukan karena performanya rendah, tapi karena struktur biaya dan strategi pasar yang berbeda.
Jadi kenapa terasa “aneh”?
Karena kita sudah terbiasa melihat laptop mahal dengan spek biasa. Begitu ada laptop murah dengan spek tinggi, otak langsung curiga.
Padahal kenyataannya lebih sederhana, ini bukan laptop yang “kemurahan tanpa alasan”, tapi laptop yang menggeser prioritas dari branding dan tampilan, ke performa murni.
Baca Juga: Cara Upgrade PC: Komponen Apa Saja yang Harus Diganti?
Advan Workplus: Strategi “Value Killer”
Ada satu istilah di dunia teknologi: value killer.
Produk yang sengaja dibuat untuk, “Menghancurkan harga pasar dengan spesifikasi tinggi”. Dan Advan Workplus jelas bermain di sini.
ini memang strategi yang sengaja dimainkan. Bahkan kalau lihat harga pasar, laptop dengan spek seperti ini bisa ada di kisaran Rp7 jutaan saja, padahal secara performa sering dibandingkan dengan laptop yang jauh lebih mahal.
Biar kebayang konteksnya, ini salah satu varian yang beredar di pasaran, Advan Workplus Ryzen 5 6600H / Ryzen 7 7735HS.
Sekarang kita bedah lebih dalam kenapa strategi “value killer” ini bisa terjadi dan kenapa terasa “tidak masuk akal”.
1. Brand Lokal, Biaya Lebih Efisien
Ini poin paling krusial, dan sering diremehkan.
Brand global seperti ASUS, Lenovo, HP, atau Dell itu bukan cuma jual laptop, mereka jual brand experience.
Artinya, harga laptop yang kamu bayar itu sudah termasuk:
- Iklan global (TV, YouTube, sponsorship)
- Distribusi lintas negara
- R&D besar-besaran
- “Brand prestige” (iya, gengsi itu ada harganya)
Nah, Advan main di jalur berbeda.
Mereka fokus ke pasar Indonesia. Artinya:
- Tidak perlu biaya marketing global
- Tidak perlu distribusi kompleks lintas benua
- Tidak perlu “branding premium tax”
Hasilnya, harga bisa ditekan drastis.
Intinya begini, brand global jual laptop + nama besar. Sedangkan Advan jual laptop saja.
2. Fokus ke Hardware, Bukan Gimmick
Kalau kamu perhatiin, banyak laptop sekarang jualan “feel”: RGB keyboard warna-warni. Desain super tipis dengan material mahal. Fitur tambahan yang kadang jarang dipakai juga
Bagaimana Workplus? Nah, laptop ini tidak main di situ.
Laptop ini lebih memilih pendekatan brutal yaitu “Yang penting kencang dulu. Sisanya belakangan.”
Makanya kamu tidak akan nemu:
- RGB heboh ala laptop gaming
- Desain ultra-premium yang bikin harga naik
- Fitur kosmetik yang sebenarnya tidak berdampak ke performa
Sebaliknya, budget dialihkan ke hal yang benar-benar terasa saat dipakai:
- CPU kelas tinggi (Ryzen seri H)
- RAM besar 16GB
- Storage lega dan cepat
- Sistem pendingin serius (bahkan pakai dual fan & heatpipe)
Hasilnya, performa yang biasanya kamu temuin di laptop belasan juta bisa turun ke kelas harga menengah.
Lalu, kenapa strategi ini efektif?
Karena sebagian besar pengguna sebenarnya butuh satu hal:
Laptop yang cepat dan tidak lemot. Bukan laptop yang:
- Keyboard-nya bisa nyala 16 juta warna
- Bodinya metal semua tapi performa biasa
- Tipis tapi langsung ngos-ngosan buka banyak aplikasi
Workplus memahami ini dengan cukup “tajam”.
Mereka seolah bilang: “Daripada kamu bayar mahal buat tampilan, mending bayar buat performa.”
Dan menariknya, ini cocok banget buat:
- Mahasiswa (multitasking, coding, desain ringan)
- Freelancer (editing, kerja berat)
- Kantoran (buka banyak tab + aplikasi sekaligus)
3. OEM Strategy
Laptop ini kemungkinan besar menggunakan desain dari ODM (Original Design Manufacturer).
Artinya:
- Tidak mulai dari nol
- Biaya produksi lebih murah
Tapi tetap powerful.
Advan Workplus: Performa Aslinya Gimana?
Oke, sekarang kita masuk ke bagian yang paling penting.
Apakah performanya benar-benar se-wow itu?
Jawabannya: iya, dengan beberapa catatan.
CPU Kencang di Kelasnya
Ryzen 5 6600H dan Ryzen 7 7735HS itu memang masuk kategori high-performance mobile processor. Bahkan di benchmark nyata:
- Cinebench R23 tembus sekitar 10.500 (multi-core)
- Geekbench multi-core di kisaran 7.800+
- Setara laptop dengan CPU kelas i7 generasi lama
Artinya apa? Ini bukan sekadar “lebih cepat dari laptop murah”, tapi sudah masuk level laptop performa menengah-atas.
Dan yang bikin menarik, performa ini biasanya ada di laptop Rp10–13 jutaan, bukan di harga Workplus yang jauh lebih rendah. Performa ini cocok untuk:
1. Editing Video – Aman, Bahkan Ngebut (1080p)
Untuk editing:
- Adobe Premiere Pro / DaVinci Resolve jalan lancar
- Rendering video 5–10 menit bisa selesai sekitar 3–5 menit
Ini cepat banget untuk kelas harga segini, tapi
- 4K masih bisa, sedikit mulai berat
- Preview kadang patah kalau banyak efek
Jadi sweet spot-nya: 1080p heavy editing = aman banget
2. Coding & Multitasking – Ini “Habitat Aslinya”
Di sinilah Workplus benar-benar bersinar.
- IDE berat seperti Visual Studio / Android Studio lancar
- Compile project besar lebih cepat karena multi-core
- Buka banyak tab + aplikasi? Masih santai
Kenapa, karena kombinasi:
- 6–8 core CPU
- 16GB RAM
- SSD cepat
Ini bikin pengalaman multitasking terasa “lega”, bukan “maksa hidup”.
3. Desain Grafis – Lancar, Tapi Ada Batas
Untuk:
- Photoshop
- Illustrator
- CorelDRAW
Aman untuk proyek menengah, tapi kalau:
- File super besar
- Layer ratusan
- Efek berat banget
Mulai terasa limit, karena GPU-nya masih integrated (bukan dedicated).
4. Gaming – Lumayan Ngeri untuk Harga Segini
Ini bagian yang sering bikin orang kaget.
Hasil real:
- Valorant: 90–120 FPS
- DOTA 2: 80–100 FPS
- GTA V: 45–60 FPS
- Fortnite: 50–70 FPS
Semua di setting medium 1080p. Intinya,
- Esports: lancar banget
- Game AAA: mainable, tapi bukan ultra setting
Lalu, kenapa laptop ini terasa kencang?
Ada satu faktor penting yang sering dilupakan yaitu:TDP tinggi (sekitar 45W). Artinya:
- CPU bisa “lari kencang” lebih lama
- Tidak langsung turun performa seperti CPU hemat daya
Ini beda besar dibanding laptop murah lain yang sering kencang di awal, lalu drop.
Tapi, ada catatan penting. Walaupun performanya “wow”, tetap ada batas:
1. GPU Bukan untuk Heavy 3D
- Tidak cocok untuk: 3D rendering berat, Unreal Engine serius, dan Game ultra setting.
2. Thermal & Stabilitas Tergantung Unit
Karena ini laptop performa tinggi di harga murah:
- Pendinginan cukup, tapi bukan kelas premium
- Bisa ada throttle di kondisi ekstrem
3. Performa ≠ Premium Experience
- Keyboard, speaker, layar → “cukup”, bukan “wah”
- Fokusnya tetap: tenaga, bukan rasa mewah

Advan Workplus: Layar dan Desain, Worth It?
Laptop murah biasanya “ketahuan” dari layar dan build quality. Tapi di sini, beda!
Layar 16:10 = Lebih Luas
Kenapa 16:10 itu kerasa banget?
Mayoritas laptop murah masih pakai 16:9.
Artinya, layar lebih “lebar ke samping”, tapi sempit ke atas.
Sedangkan 16:10, lebih tinggi secara vertikal.
Efeknya langsung terasa di penggunaan real:
- Coding → lebih banyak baris kode kelihatan
- Excel → nggak perlu sering scroll
- Browsing / nulis → lebih lega
Ini bukan gimmick, tapi productivity upgrade gratis.
Bahkan banyak laptop mahal sekarang mulai balik ke rasio ini. Workplus, sudah duluan masuk.
IPS Panel, Standar Minimal yang Dipenuhi
Panel IPS berarti:
- Sudut pandang luas
- Warna lebih stabil
- Lebih nyaman dipakai lama
Dan ini penting, karena laptop murah biasanya masih pakai panel TN (warna pudar, sudut sempit).
Workplus sudah melewati “batas minimum layak”.
Tapi, jangan terlalu overexpect. Layar Workplus itu:
- Tajam & nyaman
- Enak buat kerja
- Bukan layar profesional
Biasanya:
- Color gamut standar (bukan 100% sRGB tinggi)
- Brightness cukup, tapi bukan outdoor monster
Jadi cocok untuk:
- Kerja harian
- Editing ringan-menengah
Kurang ideal untuk:
- Color grading profesional
- Desain yang butuh akurasi warna tinggi
Desain: Simple, Tapi Tidak Murahan
Sekarang masuk ke build quality. Workplus tidak mencoba jadi “MacBook killer” dari segi desain. Tapi juga tidak terasa murahan.
- Desain minimalis & clean
- Bisa dibuka 180 derajat (praktis buat meeting)
- Bobot ringan sekitar 1.3 kg
Advan Workplus: Pendinginan dan Stabilitas
Secara desain, Workplus dibekali:
- Dual fan (kipas ganda)
- 3 heat pipe
- Exhaust ke arah belakang
Ini bukan spek asal tempel, ini sudah masuk kategori pendinginan ala laptop performa, bukan laptop tipis biasa.
Bahkan beberapa varian terbaru juga tetap mempertahankan konsep: dual cooling fan untuk menjaga suhu tetap stabil saat kerja berat.
Cara Kerjanya
Sederhananya:
- Heat pipe → menyerap panas dari CPU
- Kipas ganda → membuang panas keluar lebih cepat
- Aliran udara belakang → tidak langsung kena tangan pengguna
Kenapa ini penting? Karena CPU seperti Ryzen H-series itu, panasnya tinggi, kalau pendinginan lemah → langsung throttling.
Apakah Benar-benar Dingin? Dingin? tidak. Stabil? Iya.
Laptop dengan CPU 45W itu:
- Tetap akan panas saat kerja berat
- Tapi yang penting: panasnya terkontrol
Dan di Workplus:
- Panas masih dalam batas aman
- Tidak sampai bikin performa “jatuh bebas”
Advan Workplus: Pengalaman Pengguna
Kalau kita bicara soal Advan Workplus Ryzen 5 6600H 16GB 512GB, satu hal yang menarik: review-nya itu jarang yang “biasa aja”.
Mayoritas jatuh ke dua kubu: “Ini laptop gila murah dan kencang” atau “Kencang sih, tapi ada quirks”.
Kelebihannya:
1. “Ini Spek Segini Kok Murah Banget?”
Ini poin paling konsisten.
- Ryzen seri H (kelas performa tinggi)
- RAM 16GB
- SSD NVMe
Padahal biasanya spek seperti ini ada di laptop lebih mahal.
Bahkan CPU Ryzen 6000H sendiri umum dipakai di laptop gaming belasan juta. Jadi wajar kalau banyak pengguna bilang: “value-nya nggak masuk akal.”
2. Performa Kencang untuk Kerja Nyata
Bukan cuma benchmark, di pemakaian real:
- Multitasking lancar
- Coding cepat
- Editing masih kuat
Apalagi dengan 8 core / 16 thread di varian Ryzen 7, yang memang dirancang untuk workload berat seperti multitasking dan editing.
Ini bikin Workplus terasa “serius”, bukan laptop entry-level biasa.
3. Upgrade-Friendly (Jarang di Laptop Tipis)
Pengguna juga suka karena:
- SSD bisa di-upgrade
- Bahkan beberapa varian support tambahan storage
Ini penting banget buat jangka panjang.
4. Build Quality: “Lebih Baik dari Ekspektasi”
Walaupun bukan premium:
- Tidak ringkih
- Masih solid untuk daily use
- Desain simpel dan clean
Materialnya memang kombinasi logam + polikarbonat, tapi tetap terasa layak dipakai harian.
Kekurangannya:
1. Bug Driver & Stabilitas Software
Beberapa pengguna melaporkan:
- BSOD (blue screen)
- Error driver
- Fitur tidak jalan setelah install ulang
Contohnya: “WiFi/Bluetooth/fingerprint tidak jalan setelah reinstall”
Ini biasanya bukan hardware rusak, tapi:
- driver belum optimal
- atau support software belum matang
2. Performa Bisa Turun
Ada juga yang ngalamin:
- FPS drop tiba-tiba
- Laptop terasa “berat” setelah dipakai lama
Dan menariknya, performa bisa balik normal setelah restart.
Contoh: “FPS anjlok, tapi normal lagi setelah restart”
Ini sering dikaitkan dengan:
- manajemen power
- bug sleep mode
3. Tidak Banyak Software & Ekosistem
Kalau dibanding brand besar:
- Software bawaan minim
- Update tidak secepat brand global
- Support ekosistem terbatas
Jadi pengalaman “polished” masih kalah.
4. Quality Control (Tergantung Unit)
Ini yang paling tricky. Ada pengguna yang:
- pakai 2 tahun aman
- ada juga yang kena issue berat (restart, BIOS, dll)
Artinya:
- unit bagus → worth it banget
- unit kurang beruntung → bisa ribet
Jadi, Worth It atau tidak?
Jawabannya, Ini bukan laptop sempurna. Tapi ini laptop yang “berani beda.”
Workplus itu:
- Performa tinggi dengan harga rendah
- Cocok untuk kerja berat budget terbatas
- Tapi butuh toleransi terhadap “quirks”
Advan Workplus: Cocok untuk Siapa?
Mari kita konkretkan. Laptop ini cocok untuk:
1. Mahasiswa (Ini Target Utama)
Kalau kamu:
- Skripsi + riset (banyak tab + dokumen)
- Coding (Python, Java, web dev)
- Multitasking (Zoom + Chrome + Word)
Ini “zona nyaman” Workplus.
Kenapa?
- 16GB RAM bikin multitasking lega
- CPU Ryzen H-series kuat untuk compile & proses data
Hasilnya, laptop terasa “enteng”, bukan maksa hidup.
2. Content Creator Pemula – Menengah
Buat kamu yang main di:
- Adobe Premiere Pro
- Photoshop
- Canva
- CapCut / DaVinci
Masih sangat kuat, terutama untuk 1080p editing. Bahkan GPU Radeon iGPU-nya sudah cukup untuk:
- Rendering ringan–menengah
- Motion basic
- Thumbnail & desain konten
Dan ini memang sesuai tujuan laptop ini yang mendukung content creator.
3. Pekerja Kantoran “Serius”
Kalau kerja kamu:
- Banyak tab browser (20–50 tab)
- Excel berat
- Tools kerja sekaligus (Slack, Zoom, Docs, dll)
Workplus itu kayak “anti lemot package”.
Apalagi dengan:
- SSD cepat
- CPU multi-core tinggi
Multitasking bukan lagi masalah, tapi standar.
4. Gamer Santai
Untuk:
- Valorant
- DOTA 2
- CS2
- GTA V (medium)
Masih aman dan playable. Karena:
- iGPU Radeon sudah cukup kuat untuk esports
- CPU kencang bantu stabil FPS
Tapi kalau kamu gamer AAA ultra setting, ini bukan targetnya.
Kurang Cocok untuk Siapa?
Nah ini penting, biar tidak salah beli.
1. Profesional Kreatif High-End
- Color grading profesional
- 3D rendering berat
- Blender / Unreal serius
Butuh GPU dedicated (RTX, dll).
2. User yang Mau “No Drama”
Kalau kamu tipe:
- Mau langsung pakai
- Nggak mau mikir driver / bug
- Semua harus smooth tanpa tweak
Workplus mungkin terasa “kurang polished”.
3. Gamer Hardcore
- AAA ultra
- Ray tracing
- High FPS stabil di game berat
Jelas bukan target device ini.

Intinya, Advan Workplus bukan sekadar laptop murah.
Ini adalah statement. Bahwa, brand lokal juga bisa bikin produk dengan performa tinggi tanpa harga selangit.
Ia bukan tanpa kekurangan. Tapi justru di situlah menariknya. Karena di balik semua kompromi itu, ada satu hal yang jelas yaitu Value yang sangat sulit dikalahkan di kelasnya.
FAQ
1. Apakah Advan Workplus cocok untuk editing video?
Ya. Dengan Ryzen 5/7 dan RAM 16GB, laptop ini cukup kuat untuk editing video Full HD hingga ringan 4K.
2. Apakah bisa upgrade RAM?
Tidak. RAM onboard. Tapi SSD bisa di-upgrade.
3. Apakah laptop ini tahan lama?
Secara hardware, cukup kuat. Tapi software dan driver perlu perhatian ekstra.
4. Apakah bisa untuk gaming berat?
Bisa, tapi harus setting medium-low karena tidak ada GPU dedicated.
5. Apakah build quality bagus?
Cukup solid, tapi tidak se-premium brand internasional.
6. Apakah cepat panas?
Tidak terlalu, karena sudah ada dual cooling system.
7. Apakah cocok untuk programmer?
Sangat cocok. CPU dan RAM-nya mendukung multitasking berat.
8. Apakah layar nyaman untuk kerja lama?
Ya. IPS + rasio 16:10 membuatnya nyaman untuk produktivitas.
9. Kenapa harganya bisa murah?
Karena efisiensi brand lokal dan strategi produksi.
10. Apakah ini laptop terbaik di harga 7–8 jutaan?
Untuk performa? Bisa dibilang iya. Untuk keseluruhan? Tergantung kebutuhanmu.











