Pernahkah kamu membuka toko online atau marketplace dan melihat harga motherboard, lalu bingung.
Nah, banyak kalangan pengguna PC mulai dari pemula hingga profesional, ramai mempertanyakan hal ini.
Karena emang motherboard ini adalah komponen krusial yang menjadi tulang punggung sistem komputer.
Tapi kenapa sekarang harga motherboard naik seperti roller coaster? Yuk kita bahas lebih dalam.
Apa Sih Itu Motherboard dan Kenapa Harganya Sekarang Jadi Topik Hangat?
Kalau bahasa sederhana, Motherboard adalah papan sirkuit utama di dalam komputer yang berfungsi sebagai pusat penghubung dan komunikasi antar semua komponen penting seperti CPU, RAM, GPU, SSD, serta perangkat lainnya yang terpasang di dalam atau di luar sistem.
Sebagai backbone atau tulang punggung komputer, motherboard menyediakan slot dan konektor tempat komponen-komponen tersebut dipasang serta jalur sirkuit yang memungkinkan mereka saling bertukar data dan instruksi agar sistem dapat bekerja secara terpadu.
Selain itu, motherboard juga mendistribusikan daya listrik dari unit catu daya (PSU) ke setiap komponen yang membutuhkan, serta menyertakan firmware seperti BIOS/UEFI yang memulai proses booting saat komputer dinyalakan dan membantu mengatur interaksi perangkat keras dengan perangkat lunak sistem.
Intinya, tanpa motherboard bagian-bagian seperti CPU, RAM, GPU, SSD, dan perangkat eksternal tidak akan bisa saling terhubung dan berfungsi bersama sebagai sebuah komputer yang utuh.
Bayangin kalau tubuh manusia: motherboard itu seperti tulang belakangnya kalau dia goyah, seluruh tubuh ikut terguncang
Sekarang pertanyaannya:
- Kenapa harga motherboard naik?
- Apa yang membuatnya jadi lebih mahal dibanding dulu?
Kita akan bahas faktor-faktor itu satu persatu.
Baca Juga: 10 Merk Motherboard Terbaik 2026 untuk Gaming, & Kerja
Penyebab Utama: Kenapa Harga Motherboard Naik?
Ada beberapa faktor teknis dan global yang membuat harga motherboard meningkat tajam akhir-akhir ini.
A. Komponen Mahal & Semikonduktor yang Langka
Motherboard modern itu jauh dari sekadar “papan hitam polos dengan soket CPU”.
Sekarang ia dipenuhi puluhan sampai ratusan komponen kecil yang punya tugas kritis misalnya mengatur distribusi daya, menjaga sinyal tetap stabil, atau memastikan komunikasi antar-komponen berjalan cepat dan aman.
Komponen seperti power switches dan IC (integrated circuits) yang dipakai di bagian voltage regulator module (VRM) dan pengatur daya sangat penting karena memastikan CPU, RAM, dan GPU menerima listrik yang stabil dan sesuai kebutuhan.
Semua bagian ini wajib memakai semikonduktor berkualitas tinggi agar kinerja tetap optimal dalam berbagai kondisi pemakaian.
Nah, belakangan ini beberapa dari komponen krusial tersebut mengalami kenaikan harga yang nyata.
Salah satu contoh paling konkret datang dari merek semikonduktor besar, Infineon, yang kabarnya akan menaikkan harga power switches dan IC karena permintaan yang sangat tinggi dari sektor AI dan meningkatnya biaya produksi yang sudah tidak bisa lagi ditanggung perusahaan sendiri.
Hal ini terkait kuat dengan meningkatnya kebutuhan daya dalam server dan pusat data AI yang memicu tekanan pada pasokan chip jenis ini.
Permintaan global akan chip semikonduktor juga membebani supply pasar konsumen umum.
Industri AI menyerap banyak kapasitas produksi chip memori dan logika, memaksa pabrikan memprioritaskan pesanan besar untuk proyek teknologi maju.
Akibatnya, semikonduktor yang digunakan di komponen motherboard dan perangkat lain menjadi lebih langka dan harganya naik karena supply tidak mampu mengejar permintaan.
Jadi, meskipun harga chipset dan IC mungkin tampak sebagai detail kecil di level komponen, kenaikan biaya produksi atau pengetatan pasokan justru punya efek yang besar terhadap harga motherboard secara keseluruhan karena setiap komponen tersebut menyumbang pada biaya akhir produksi.
B. Memory, Storage, dan AI Menarik Ekonomi
Satu hal yang sering orang lupa: harga motherboard juga dipengaruhi oleh komponen lain yang terlihat terpisah, seperti RAM (DRAM) dan SSD (storage).
Baru-baru ini harga RAM mengalami lonjakan yang sangat tajam, bahkan sampai level yang hampir tidak pernah terjadi sebelumnya karena permintaan global dari sektor kecerdasan buatan (AI) dan pusat data besar-besaran yang menyerap sebagian besar produksi chip memori di dunia.
Bayangkan, produsen chip seperti Samsung, SK Hynix, dan Micron sekarang mengalokasikan produksi memori mereka terutama untuk kebutuhan AI dan server kelas berat, bukan untuk komputer konsumen biasa.
Hal ini membuat pasokan DRAM untuk PC biasa jadi lebih sempit, sementara harga kontrak memori terus melonjak, bahkan lebih dari 50 % dalam beberapa periode produksi terakhir.
Ketika RAM menjadi mahal, dampaknya tidak hanya terasa pada harga memory itu sendiri.
Banyak calon pembeli yang tadinya berencana upgrade komputer atau rakit PC baru memilih untuk menunda keputusan mereka, karena total biaya upgrade menjadi terlalu besar.
Situasi ini mengakibatkan permintaan keseluruhan pada komponen lain seperti motherboard juga turun drastis.
Bahkan laporan dari beberapa sumber menunjukkan bahwa penjualan motherboard di pasar global turun sampai sekitar 40–50 % karena konsumen lebih memilih menunggu harga RAM turun atau menunda upgrade PC mereka terlebih dahulu.
Analoginya mirip dengan skenario berikut: kamu ingin beli dua barang sekaligus misalnya buku dan tas baru tapi ketika harga buku naik tajam, kamu otomatis memikirkan ulang dulu beli tasnya.
Kamu mungkin memutuskan untuk duluan beli buku saja atau menunggu harga kembali normal sebelum membeli tas.
Begitu juga dalam konteks rakit PC: saat biaya RAM melonjak, banyak pengguna menunda pembelian motherboard atau upgrade lainnya sampai keadaan harga lebih bersahabat.
Jadi, meskipun RAM dan SSD terlihat seperti komponen terpisah dari motherboard, tekanan harga di satu area akhirnya menyeret komponen yang lain dalam ekosistem PC karena keputusan pembelian konsumen berubah.
C. Biaya Bahan Mentah yang Ikut Naik
harga motherboard naik bahan mentah yang dipakai untuk bikin Ternyata, bukan cuma chip dan komponen elektronik yang bikin PCB (Printed Circuit Board) juga sedang naik harganya secara signifikan.
Dua bahan logam utama yang banyak dipakai dalam PCB adalah tembaga (copper) dan timah (tin), dan harga kedua bahan ini sedang melonjak tajam belakangan ini.
Tembaga itu sangat penting karena dipakai untuk semua jalur konduktif di PCB dari jalur kecil yang membawa sinyal data hingga jalur besar yang mengantar listrik dari PSU ke CPU atau GPU.
Bahkan di bahan dasar laminasi PCB itu sendiri, tembaga bisa menyumbang porsi besar dari total biaya pembuatan PCB karena kebutuhan konsumsinya yang tinggi.
Selain itu, timah digunakan dalam proses solder untuk menyambungkan komponen elektronik ke papan sirkuit.
Ketika harga kedua bahan ini naik, otomatis biaya pembuatan PCB ikut meningkat juga dan ini berimbas langsung pada harga jual motherboard di pasaran.
Contohnya, data industri menunjukkan bahwa harga tembaga dan timah mengalami kenaikan besar setelah periode tertentu, dengan harga tembaga per ton naik puluhan persen dibanding sebelumnya, sementara timah bahkan melonjak lebih tinggi lagi karena keketatan pasokan dan permintaan yang kuat di sektor elektronik dan teknologi tinggi.
Kondisi ini membuat pabrik PCB harus membayar lebih banyak untuk bahan baku dasar mereka, dan itu bukan sesuatu yang bisa dihindari atau ditunda begitu saja.
Yang harus diingat juga adalah kenaikan ini bukan karena vendor motherboard mau “mencari keuntungan ekstra” semata, tapi karena biaya produksi yang memang meningkat secara fundamental bahan mentah makin mahal, suplai makin ketat, dan permintaan global terus menekan pasar logam ini.
Dan karena papan sirkuit adalah bagian inti dari motherboard, kenaikan biaya bahan mentah ini otomatis mendorong harga motherboard ikut naik di pasaran.
D. Supply Chain & Politik Global
Masalah global sekarang bukan sekadar angka di laporan ekonomi tapi nyata terasa di rak toko, marketplace, dan bahkan kamu yang mau ngerakit PC.
Harga motherboard sering dipengaruhi oleh isu geopolitik dan dinamika perdagangan internasional, bukan hanya penawaran & permintaan biasa.
Pertama, ketegangan geopolitik antara negara-negara besar seperti Amerika Serikat, China, dan Taiwan membuat rantai pasokan semikonduktor jadi lebih rumit.
Pemerintah bisa memberlakukan pembatasan ekspor, sanksi, atau aturan teknologi tertentu untuk alasan keamanan nasional. Ini bikin produsen harus cepat cari jalur baru atau sumber komponen lain, yang seringkali lebih mahal dan kurang efisien.
Kedua, tarif dan bea masuk yang dikenakan pada komponen elektronik juga punya efek yang luas. Misalnya, kalau negara A menaikkan tarif impor semikonduktor yang berasal dari negara B, biaya itu bisa turun sampai ke harga konsumen akhir di negara C.
Beberapa analis bahkan mengamati bahwa rencana tarif 10–25% pada semikonduktor di AS bisa meningkatkan biaya produksi chip, yang pada akhirnya mendorong harga barang elektronik lebih tinggi secara keseluruhan.
Ini bukan cuma teori banyak vendor global sudah mengubah strategi produksi mereka untuk mengurangi risiko tarif.
Misalnya, produsen besar seperti Asus memindahkan sebagian besar produksi motherboard dari China ke negara lain seperti Thailand, Vietnam, dan Indonesia supaya menghindari tarif tinggi dan menambah fleksibilitas rantai pasok.
Ketiga, fluktuasi nilai mata uang juga berdampak. Ketika nilai mata uang suatu negara melemah terhadap dolar AS (mata uang perdagangan internasional utama), biaya impor komponen elektronik bertambah mahal dalam mata uang lokal.
Biaya ini biasanya ditransfer ke harga jual konsumen supaya produsen atau distributor tetap tutup buku.
Secara sederhana, kalau negara A terus menaikkan tarif atau membatasi ekspor komponen elektronik, perusahaan yang bergantung pada komponen itu harus menanggung biaya tambahan, mencari pemasok baru, atau relokasi pabrik.
Semua itu bikin proses produksi makin kompleks dan mahal dan ujung-ujungnya harga motherboard di toko juga ikut naik karena biaya produksi dan logistik meningkat.
Jadi, ketika kamu lihat harga motherboard atau komponen PC lain tiba-tiba melompat tanpa alasan yang jelas dari sisi lokal, itu bisa jadi efek dari geopolitik global dan kebijakan perdagangan internasional yang sedang berlangsung.

Dampak Bagi Pengguna PC: Gak Cuma Mahal
Oke, kita sudah ngomong soal kenapa harga motherboard naik. Tapi bagaimana hal ini mempengaruhi kita terutama pengguna PC sehari-hari?
A. Biaya Rakit PC Naik Total
Kalau harga motherboard naik, otomatis bikin seluruh biaya membangun atau upgrade PC makin mahal.
Itu bukan sekadar teori ini kenyataan pasar global. Beberapa analis memprediksi harga PC secara keseluruhan bisa naik sampai sekitar 15–20% karena komponen mahal.
Bayangkan kamu mau rakit PC gaming: Sebelumnya kamu bisa target total biaya sekitar 10 juta rupiah, tapi sekarang komponen utama seperti RAM dan motherboard menjadi besar part dari total biaya itu bisa membuat total jadi 11-12 juta bahkan lebih. Gak kecil, kan?
B. Banyak Orang Menunda Upgrade
Kalau dulu kamu upgrade motherboard dan CPU setiap 2–3 tahun sekarang banyak orang berpikir panjang dulu. Banyak kasus di komunitas PC yang membahas:
“Tunggu dulu harga turun…”
Itu wajar. Tapi sayangnya, harga komponen yang lagi tinggi bukan hal yang cepat turun apalagi dengan permintaan AI yang masih sangat tinggi.
C. Pilihan Konsumen Menjadi Berubah
Ketika harga komponen naik, banyak orang yang mulai mempertimbangkan:
- Beli motherboard entry level dulu.
- Beli komponen second-hand yang layak.
- Atau bahkan memilih laptop daripada PC rakitan.
Ini semua karena harga motherboard naik mengubah cara orang berpikir tentang upgrade PC.
Contoh Mini Kasus: Dari Gamer Hipster sampai Konten Kreator
Kalau kamu suka ngintip forum atau subreddit rakit PC, kamu pasti pernah lihat postingan seperti ini:
“Gimana nih gan, MSI X670 sekarang kok harganya mirip harga motor bekas nih?” dan ini bukan hanya bercanda semata, komentarnya serius banget.
Demikian pula, ada yang bertanya di situs reddit “apakah merakit PC dengan budget 10 juta saat ini masih sepadan dibanding tahun lalu”, dan banyak yang berpendapat, “Sebaiknya simpan dana dulu, tunggu kondisi kembali stabil.”
Ini menunjukkan realitas sederhana: harga motherboard naik bukan sekadar angka di toko online, itu bikin keputusan nyata di kepala pembeli PC setiap hari.
Tips Cerdas Menghadapi Harga Motherboard yang Naik
Kalau harga terus naik, apa strategi terbaik buat kita biar gak kecolongan budget? Ini beberapa tips sederhana tapi efektif.
1. Pantau Harga Secara Rutin
Jangan lihat harga sekali, cek berkali-kali lewat marketplace, notifikasi diskon, atau fitur penanda harga.
2. Pilih Timing Promo Besar
Acara seperti harbolnas, black friday atau promo khusus sering kasih harga yang lebih bersahabat.
3. Pertimbangkan Komponen Second-Hand
Kalau kamu tahu apa yang dicari, parts second-hand seperti motherboard atau GPU bekas bisa jadi opsi hemat.
4. Fokus Pada Kebutuhan Nyata
Kalau kamu cuma pakai PC untuk kerja ringan, gak perlu beli motherboard high-end yang dilengkapi ribuan fitur yang tidak kamu butuhkan.
Kenapa Situasi Ini Bisa Terjadi Lagi di Masa Depan?
Harga motherboard dan komponen PC sangat dipengaruhi oleh trend global.
Dan saat ini, salah satu trend besar itu adalah ledakan permintaan AI server server AI butuh memory besar dan khusus, sehingga komponen lain jadi “direbut”.
Artinya, selama kebutuhan AI dan pusat data perusahaan terus tumbuh, kemungkinan harga komponen PC tetap tinggi untuk beberapa waktu ke depan.
Beberapa analis bahkan memperkirakan dampaknya bisa terasa sampai hingga beberapa tahun ke depan.
Nah, buat kamu yang penasaran:
- Ini bukan cuma soal inflasi sederhana.
- Ini bukan juga sekedar vendor jahat yang mau untung besar.
- Ini lebih banyak karena kombinasi faktor global dan teknis seperti kekurangan chip, permintaan AI, cost bahan baku, rantai pasok yang rumit, hingga strategi pemasaran produsen.

Intinya, harga motherboard naik adalah fenomena yang nyata dan punya banyak akar penyebab, bukan cuma sekadar kabar burung.
Dan dampaknya terasa langsung buat pengguna PC dari semua kalangan gamer, profesional, hingga pengguna harian.
Dengan memahami penyebabnya, kamu sebagai pengguna bisa bersiap dengan strategi yang lebih pintar supaya nggak kaget saat bakal ngerakit atau upgrade PC berikutnya.
FAQ
1️. Kenapa harga motherboard naik secara global?
Harga motherboard naik karena kombinasi faktor: mahalnya komponen semikonduktor, permintaan memory dan storage naik, supply chain yang terganggu, serta kenaikan biaya bahan mentah seperti tembaga dan timah.
2️. Apakah harga akan turun dalam waktu dekat?
Prediksi harga turun sangat bergantung pada supply demand global. Dengan tekanan permintaan AI yang besar dan keterbatasan pabrik memproduksi chip baru, kemungkinan penurunan besar dalam waktu singkat cukup kecil.
3️. Apa hubungan harga RAM dengan harga motherboard?
Harga RAM yang naik membuat banyak orang menunda rakit PC baru. Penundaan ini kemudian berdampak pada penjualan motherboard karena sering dibeli bersamaan dengan RAM.
4️. Haruskah saya tetap upgrade PC sekarang?
Kalau kebutuhanmu mendesak (misal kerja atau kuliah), upgrade sekarang bisa jadi lebih baik. Tapi kalau hanya untuk sekadar “biar lebih cepat,” menunggu promosi harga bisa lebih bijak.
5️. Apakah semua merk motherboard mengalami kenaikan harga?
Mayoritas brand besar seperti ASUS, MSI, dan Gigabyte mengalami tren kenaikan harga sesuai kondisi pasar dan biaya produksi komponen yang tinggi.
6️. Apakah membeli motherboard second-hand aman?
Bisa jadi opsi hemat, tapi perlu teliti memastikan kondisi fisik, compatibilitas, dan garansi penjual sebelum membeli.
7️. Kenapa permintaan AI memengaruhi komponen PC biasa?
Karena AI data center menggunakan banyak memori server dan chip khusus, pabrik memprioritaskan produksi untuk itu, sehingga pasokan untuk komponen PC biasa menjadi lebih terbatas.











