Kalau kamu sempat berpikir “Asus Tidak Akan Produksi Smartphone Lagi?” Lalu bagaimana nasib Asus ROG Phone dan Zenfone? Tenang! kamu tidak sendirian bahkan para geek gadget di seluruh dunia sedang ramai-ramainya membahas hal ini.
Ini adalah sebuah perubahan strategi besar dari raksasa teknologi Taiwan yang sudah berusia hampir dua dekade di dunia ponsel.
Asus ROG Phone dan Zenfone, Tidak Produksi Apa yang Terjadi?
Awal Januari 2026 menjadi momen yang cukup mengejutkan bagi penggemar smartphone Android, khususnya mereka yang mengikuti produk Zenfone dan ROG Phone dari Asus.
Di tengah rumor kuat di industri teknologi bahwa Asus akan tidak meluncurkan smartphone baru sepanjang tahun 2026, raksasa teknologi asal Taiwan ini secara resmi mengonfirmasi bahwa mereka tidak memiliki rencana untuk merilis model smartphone baru di tahun ini.
Artinya, baik lini Zenfone yang dikenal dengan desain elegan dan kompak maupun ROG Phone yang dicintai oleh gamer karena performa tinggi mereka, tidak akan mendapat generasi baru di 2026.
Keputusan Asus ini memang disampaikan dalam konteks perusahaan menyebutnya sebagai “strategic pause” atau jeda strategis, bukan pengumuman penutupan total divisi smartphone mereka.
Namun banyak analis dan media teknologi menilai bahwa jeda setahun untuk merancang dan mengembangkan ponsel baru bisa berarti penurunan serius dalam komitmen Asus terhadap pasar smartphone.
Alasannya, pengembangan perangkat baru membutuhkan waktu berbulan-bulan bahkan lebih dari setahun. Jika tidak ada R&D baru yang sedang berjalan, kemungkinan rilis di masa depan menjadi sangat kecil.
Baca Juga: Harga SSD Naik 2026: Penyebab, & Solusi Hemat Upgrade Laptop
Kenapa ASUS Menghentikan Produksi Smartphone?
Ada beberapa alasan menarik di balik keputusan Asus ini:
1. Fokus ke AI dan Teknologi Baru
Keputusan ASUS menghentikan produksi smartphone baru pada tahun 2026 dan memilih untuk fokus ke AI dan teknologi baru bukan sekadar langkah bisnis biasa ini adalah pergeseran strategi besar yang mencerminkan bagaimana perusahaan melihat masa depan teknologi.
Dalam pernyataannya, Chairman ASUS Jonney Shih menyampaikan bahwa perusahaan tidak akan lagi menambah model smartphone di masa depan, yang berarti lini Zenfone dan ROG Phone tidak lagi menjadi fokus utama mereka dalam jangka panjang.
Sama halnya terus bersaing di pasar smartphone yang sangat kompetitif dan seringkali menghasilkan margin keuntungan tipis, ASUS memutuskan untuk mengalihkan sumber daya riset dan pengembangan dari ponsel ke perangkat berbasis kecerdasan buatan (AI) seperti kacamata pintar (AI smart glasses), robot, sistem AI fisik, dan PC bertenaga AI yang dianggap memiliki potensi pertumbuhan lebih tinggi.
Vision ASUS ini didorong bukan hanya oleh tren teknologi, tetapi juga oleh performa internal bisnis mereka divisi AI, khususnya server AI, mencatat pertumbuhan signifikan yang menjadi pendorong utama pendapatan perusahaan pada 2025.
Fokus baru ini terlihat jelas dari kehadiran ASUS di acara teknologi besar seperti CES 2026, di mana mereka lebih menonjolkan produk terkenalnya di bidang AI dan komputasi canggih ketimbang smartphone.
Perusahaan juga menegaskan bahwa unit smartphone mereka akan terus mendapatkan dukungan servis, pembaruan perangkat lunak, dan layanan purna jual untuk perangkat yang sudah ada, tetapi tidak akan ada generasi baru yang dikembangkan sampai mungkin di masa depan jika kondisi pasar berubah.
Alasan di balik keputusan ini juga berkaitan dengan tantangan ekonomi di industri smartphone modern.
Tren harga komponen seperti memori dan RAM yang meningkat, persaingan ketat dari merek-merek besar lain, serta permintaan global yang tidak tumbuh sesignifikan sebelumnya semuanya membuat bisnis ponsel semakin sulit bagi perusahaan yang tidak memiliki skala produksi sebesar raksasa teknologi lain.
Dalam kondisi seperti ini, berfokus pada teknologi baru yang menghadirkan keuntungan margin lebih tinggi seperti AI dipandang lebih strategis.
Yang menarik adalah, meskipun keputusan ini terasa seperti akhir era smartphone ASUS terutama bagi penggemar Zenfone yang mengingat kejayaan seri itu sebagai ponsel kompak elegan ASUS tidak sepenuhnya menutup pintu untuk kemungkinan kembali ke pasar smartphone di masa depan.
Pernyataan perusahaan menyiratkan bahwa perubahan fokus ini adalah respons strategis terhadap realitas pasar saat ini, dan bukan “belasungkawa total” terhadap bisnis ponsel mereka.
Namun di saat yang sama, langkah ini jelas menunjukkan bahwa ASUS melihat AI dan teknologi masa depan sebagai arena di mana mereka bisa bermain lebih kompetitif dan menguntungkan.
2. Pasar Smartphone Itu Super Kompetitif
Keputusan ASUS menghentikan produksi smartphone dan tidak meluncurkan model baru sepanjang 2026 bukan sekadar “istirahat sebentar” tanpa konteks ini muncul dari realitas keras di pasar smartphone global yang sangat kompetitif, di mana ASUS terus berjuang untuk mencari pangsa yang berarti di tengah dominasi pemain besar seperti Samsung, Apple, Xiaomi, Oppo, dan Vivo.
Dalam beberapa tahun terakhir, ponsel ASUS, termasuk lini Zenfone dan ROG Phone, gagal mencapai penjualan yang signifikan di pasar global, sehingga membuat kontribusi bisnis smartphone terhadap total pendapatan ASUS sangat kecil dibandingkan dengan divisi lain seperti PC, laptop, dan komponen hardware lainnya.
Faktor kompetisi pasar super ketat menjadi salah satu alasan utama. Samsung dan Apple secara tradisional menguasai pangsa pasar global, sementara merek-merek China seperti Xiaomi, Oppo, dan Vivo memanfaatkan produksi berskala besar dan strategi harga agresif untuk mendominasi segmen menengah ke bawah.
Dalam skenario seperti ini, ASUS memiliki market share yang sangat kecil bahkan dilaporkan di bawah 1% hingga sekitar 1,2% di beberapa pasar tertentu jauh di bawah pesaing besar, sehingga posisinya dalam persaingan semakin sulit untuk dipertahankan.
Ketika sebuah perusahaan hanya memiliki pangsa pasar yang sangat kecil, itu artinya biaya produksi dan investasi untuk mengembangkan model baru sangat sulit diimbangi oleh pendapatan dari penjualan itu sendiri.
Biaya komponen seperti memori RAM dan penyimpanan yang terus naik juga membuat margin keuntungan semakin tipis, sementara perusahaan berukuran besar bisa menegosiasikan harga komponen lebih murah karena volume pembelian yang besar.
Situasi biaya komponen yang meningkat dan margin yang sempit ini memperburuk kondisi bagi ASUS dan memaksa mereka mempertimbangkan apakah masih layak bertahan di pasar yang keras ini.
Akibatnya, langkah ASUS untuk menunda peluncuran smartphone baru pada 2026 mencerminkan strategi adaptasi di mana perusahaan memilih untuk mengalokasikan sumber daya dan fokus R&D ke area bisnis lain yang lebih menjanjikan, seperti kecerdasan buatan (AI), robotika, perangkat wearable, dan PC.
Perubahan fokus ini dipandang sebagai cara ASUS untuk mencari pertumbuhan yang lebih stabil dan profitabilitas yang lebih tinggi di masa depan, sementara divisi smartphone yang selama ini berjuang keras akhirnya diprioritaskan ulang atau bahkan ditutup secara efektif.
Intinya, kompetisi pasar smartphone global yang sangat ketat, pangsa pasar ASUS yang kecil, meningkatnya biaya komponen, dan peluang bisnis yang lebih menjanjikan di luar smartphone membuat ASUS memilih untuk menghentikan produksi ponsel pada 2026, daripada terus terjun dalam pertempuran yang semakin sulit dan kurang menguntungkan.
3. Biaya Komponen Meroket
Alasan kenapa ASUS menghentikan produksi smartphone baru khususnya karena biaya komponen meroket sebenarnya bukan sekadar alasan kecil atau alasan “alasan klasik pabrikan”, tapi berkaitan dengan perubahan fundamental dalam struktur biaya industri teknologi yang kini semakin menekan bisnis ponsel pintar.
Pasalnya, komponen utama seperti RAM (memori DRAM), flash storage (NAND), serta chip prosesor dan modul lainnya menjadi jauh lebih mahal dan lebih sulit didapat dalam kondisi pasar saat ini.
Harga komponen seperti RAM dan storage telah meningkat secara drastis dalam setahun terakhir karena permintaan global yang meledak dari sektor lain terutama untuk kebutuhan data center dan infrastruktur AI yang menawarkan margin keuntungan lebih tinggi daripada komponen yang digunakan di smartphone.
Ketika gigantic cloud provider dan produsen AI servermenyerap pasokan memori dan wafer di pabrik produksi, porsi komponen yang tersisa untuk perangkat konsumen seperti ponsel dan laptop menjadi lebih terbatas dan lebih mahal.
Itu berarti biaya produksi per unit smartphone meningkat tajam.
Dengan biaya komponen yang meningkat, margin keuntungan untuk setiap ponsel semakin menyempit.
Bagi perusahaan besar seperti Samsung atau Apple yang punya skala produksi sangat besar, dampak ini bisa lebih dikelola.
Namun bagi ASUS yang pangsa pasarnya jauh lebih kecil dan volume produksinya tidak berada pada level jutaan unit seperti pesaing terbesar biaya komponen yang meroket membuat kalkulasi ekonomi untuk meluncurkan smartphone baru menjadi semakin kurang menarik finansialnya.
Dengan kata lain, kalau ASUS tetap memaksakan merilis ponsel dengan harga komponen yang tinggi, mereka akan terpaksa menaikkan harga jualnya kepada konsumen yang bisa membuat produknya kurang kompetitif di pasar yang sangat sensitif terhadap harga.
Tekanan biaya ini juga diperkuat oleh fakta bahwa biaya RAM dan storage telah mengalami fluktuasi besar dalam beberapa bulan terakhir, bahkan mengalami lonjakan harga yang signifikan di beberapa segmen.
Banyak analis industri memperkirakan bahwa harga memori akan tetap volatif setidaknya sampai pertengahan 2026, jika tidak lebih lama lagi sebelum akhirnya kembali stabil.
Ketidakpastian harga ini membuat produsen seperti ASUS lebih hati-hati untuk berinvestasi besar dalam lini produk smartphone yang keuntungan per unitnya semakin tipis.
Keputusan ASUS untuk menghentikan peluncuran model baru di tahun 2026 meskipun tidak secara eksplisit menyatakan “kami berhenti karena harga komponen”, tetap dipengaruhi kuat oleh kenyataan bahwa biaya produksi ponsel semakin sulit dikendalikan.
Dalam kondisi komponen mahal dan persaingan ketat dari merek lain di segmen Android, ASUS memilih untuk merelokasi sumber daya ke area lain yang dianggap memiliki peluang pertumbuhan dan margin keuntungan lebih baik, seperti komputasi berbasis AI dan perangkat masa depan lainnya.
Jadi, pada intinya, kenaikan biaya komponen seperti RAM dan chip membuat ASUS merasa bukan saat yang tepat untuk ‘bertaruh besar’ di pasar smartphone, karena margin keuntungan yang tipis membuat rencana peluncuran ponsel baru menjadi semakin berisiko dan kurang menguntungkan secara bisnis.

Bagaimana Nasib Zenfone dan ROG Phone yang Sudah Ada?
Kalau kamu punya salah satu dari Zenfone 12 Ultra, ROG Phone 9, atau bahkan model terdahulu seperti Zenfone 10 atau ROG Phone 8, berita “tiada model baru di 2026” dari ASUS bukan berarti kamu ditinggalkan begitu saja.
ASUS telah dengan jelas menyatakan bahwa meskipun mereka tidak akan merilis smartphone baru di tahun ini, mereka tetap akan memberikan dukungan untuk perangkat yang sudah ada termasuk pembaruan perangkat lunak, garansi, dan layanan purna jual.
Dalam pernyataannya kepada mitra industri dan media, ASUS menegaskan bahwa operasi smartphone mereka akan tetap berjalan untuk mendukung pengguna saat ini, meskipun tidak akan ada rilis Zenfone atau ROG Phone baru selama tahun 2026.
Ini berarti layanan after-sales seperti update keamanan, pembaruan sistem operasi sampai batas tertentu, serta klaim garansi tetap akan tersedia bagi pemilik perangkat yang sudah beredar termasuk Zenfone 12 Ultra dan ROG Phone 9 Series, yang sejauh ini merupakan model terakhir yang dirilis sebelum keputusan ini.
Pendeknya, nasib perangkat lama tidak langsung “mati” hanya karena tidak ada model baru yang diumumkan.
ASUS akan tetap menjalankan dukungan purna jual sebagaimana mestinya, memastikan perangkat yang kamu miliki tetap aman secara software dan bisa diperbaiki jika terjadi kerusakan.
Jadi, meski kamu tidak bisa menantikan Zenfone 13 atau ROG Phone 10 di 2026, setidaknya perangkat yang kamu punya masih mendapat perhatian dari pihak pabrikan untuk masa mendatang.
Analogi sederhananya seperti restoran favorit yang tetap buka, tetapi nggak menambah menu baru tahun ini kamu masih bisa menikmati hidangan yang sudah ada, bahkan tetap dilayani dengan baik, hanya saja tidak ada varian menu baru yang muncul.
Contoh Situasi Pengguna Zenfone / ROG Phone
Kalau kamu punya, Zenfone 12 Ultra, dan ROG Phone 9:
Zenfone 12 Ultra:
Seri flagship terakhir dari lini Zenfone sebelum ASUS memutuskan “pause” atau menghentikan rilis smartphone baru di 2026 situasimu sedikit seperti punya mobil klasik yang masih dijaga dan dirawat oleh pabrikan meskipun tidak ada model pengganti baru untuk tahun ini.
ASUS telah menegaskan bahwa mereka tetap akan memberikan dukungan software, layanan garansi, dan purna jual bagi pemilik ponsel yang sudah beredar meskipun mereka tidak meluncurkan model baru sepanjang tahun ini.
Artinya, perangkat seperti Zenfone 12 Ultra masih akan menerima update keamanan dan kemungkinan update sistem selama periode dukungan yang dijanjikan oleh ASUS, sehingga kamu tidak langsung “ditinggalkan begitu saja”.
Ini mirip dengan restoran yang tetap buka untuk pelanggan lama, walaupun mereka tidak menambah menu baru kamu tetap bisa menikmati hidangan yang ada tanpa merasa ditinggalkan.

ROG Phone 9:
Bagi pengguna ROG Phone 9 atau seri ROG Phone terdahulu seperti ROG Phone 8, kondisi ini terasa sedikit berbeda.
ASUS juga menjanjikan dukungan layanan purna jual dan garansi, tetapi tren industri smartphone Android secara umum termasuk pendekatan ASUS selama beberapa generasi menunjukkan bahwa update OS untuk ponsel gaming sering dibatasi pada satu atau dua pembaruan besar saja dan umumnya hanya dilanjutkan untuk periode tertentu saja.
Artinya, meskipun kamu tetap akan menerima layanan servis atau perbaikan hardware jika terjadi kerusakan, pembaruan perangkat lunak dan major OS bisa semakin terbatas dari waktu ke waktu, terutama karena ASUS kini tidak lagi merilis model baru yang berarti tim pengembangan sistem juga tidak lagi fokus besar pada perangkat baru atau pengembangan jangka panjang sesuai roadmap lama.
Intinya, Perangkat kamu masih ‘hidup’ tapi pabrik ponsel Asus sedang berhenti bikin smartphone baru buat sementara (atau mungkin lama).

Fokus Baru Asus: AI, Smart Glasses, dan Robot!
Kali ini terus bersaing di pasar smartphone yang kini sangat ketat dan penuh tekanan margin kecil, ASUS memilih langkah strategis yang cukup berani: memindahkan sebagian besar sumber daya R&D mereka untuk mengembangkan teknologi AI yang lebih maju dan perangkat masa depan bukan ponsel pintar.
Pada acara internal dan pernyataan resmi, Chairman ASUS Jonney Shih menyatakan bahwa perusahaan akan berhenti menambah model baru pada lini Zenfone dan ROG Phone, dan akan mengarahkan tim riset mereka ke teknologi baru seperti robotika, AI smart glasses, dan PC berperforma tinggi yang dipadukan kecerdasan buatan.
Yang menarik, ASUS tidak hanya memikirkan software AI, tetapi juga perangkat fisik yang bermuatan AI yang disebutnya sebagai bagian dari era Ubiquitous AI.
Menariknya: Apa Itu “Indefinite Observation”?
Saat wartawan teknologi menanyakan kepada bos ASUS apakah keputusan ini berarti perusahaan permanen keluar dari pasar ponsel, jawaban yang diberikan malah menggunakan frasa “indefinite observation” yang secara harfiah berarti pengamatan tanpa batas waktu.
Frasa “indefinite observation” yang dipakai oleh Chairman ASUS Jonney Shih menunjukkan bahwa ASUS “menghentikan rencananya untuk merilis smartphone baru saat ini”, tetapi tidak menutup kemungkinan sepenuhnya bahwa mereka bisa kembali lagi jika kondisi pasar berubah atau jika mereka melihat peluang strategis yang lebih menjanjikan di masa depan.
Intinya, ASUS belum mengatakan “kami keluar selamanya dari ponsel”, melainkan “kami berhenti dulu untuk saat ini dan akan memantau situasi industri”.
Menurut laporan, Shih menyatakan bahwa ASUS akan memasuki fase observasi tanpa batas waktu terhadap bisnis smartphone, artinya perusahaan masih memperhatikan dinamika pasar ponsel dan strategi teknologi global, sebelum mengambil keputusan lebih lanjut tentang apakah akan kembali merilis model baru atau tidak suatu hari nanti.
Dengan kata lain, ASUS seperti berkata kepada pasar, “Kita tidak akan buat model baru untuk saat ini, tapi kita tetap pengamat aktif dan bisa berubah jika kesempatan datang.”
Pendekatan semacam ini berbeda dengan pengumuman keluar secara tegas dari satu pasar. ASUS tidak berkata “kami sudah berhenti,” melainkan “kami menghentikan rencana rilis, tapi tetap memantau, tanpa batas waktu tertentu.”
Dalam dunia bisnis, ini artinya perusahaan menahan diri dari komitmen jangka panjang di segmen smartphone sambil melihat apakah tren pasar atau teknologi baru bisa menjadi alasan kuat untuk kembali lagi suatu hari nanti.
Jadi analoginya sederhana: jika kamu pernah tiba di toko dan bilang “Nanti aja deh” ketika ditanya mau beli sesuatu, itulah yang ASUS lakukan ke pasar smartphone.
Mereka tidak menutup pintu, tapi juga belum berencana masuk lagi dalam waktu dekat, sambil terus mengamati apa yang terjadi di industri ponsel global dan apakah ada peluang yang layak untuk kembali.
Intinya, Asus memilih untuk berhenti meluncurkan smartphone baru dan itu bukan drama temporer belaka. Tapi ini bukan juga berarti Asus tutup sepenuhnya di dunia tech.
Mereka sedang berpindah fokus ke teknologi yang menurut mereka lebih menjanjikan di masa depan seperti AI, kacamata pintar, robot dan PC pintar.
Zenfone dan ROG Phone mungkin telah mencapai akhir episode, tapi Asus tidak sepenuhnya mematikan lampu. Perusahaan tersebut masih akan mendukung pemilik perangkat lama, memberikan update, garansi, dan layanan purna jual.
Tidak semua keputusan di dunia teknologi itu menyenangkan. Tapi, jika kamu pernah bangga punya ROG Phone atau Zenfone, sekarang kamu punya cerita “aku dulu punya itu saat masih trend!”
FAQ
1. Apakah Asus benar-benar akan berhenti buat smartphone selamanya?
Belum final. Mereka bilang tidak akan buat model baru di 2026 dan fokus ke AI dulu. Tapi kata “indefinite observation” artinya bukan final sepenuhnya.
2. Apakah Zenfone atau ROG Phone yang sudah aku punya masih dapat update Android?
Ya. Asus tetap menjanjikan dukungan perangkat lama termasuk update software dan layanan purna jual.
3. Kenapa Asus berhenti bikin ponsel?
Karena fokus pindah ke AI dan gadget yang dianggap lebih menguntungkan; plus tekanan biaya dan pasar smartphone yang super kompetitif.
4. Apakah Asus akan buat iPhone killer atau Android killer?
Sekarang Asus lebih fokus ke AI, bukan smartphone killer. Jadi kemungkinan buat smartphone baru dalam waktu dekat sangat kecil.
5. Apa itu “Physical AI”?
Istilah ini digunakan Asus untuk perangkat AI nyata bukan cuma software. Bisa berupa robot, smart glass, dan perangkat AI fisik lain.
6. Apakah Zenfone dan ROG Phone terjual laris?
Tidak terlalu. Asus punya market share kecil di pasar smartphone global, jauh dari merek lain yang lebih dominan.
7. Apa model terakhir yang Asus rilis?
Zenfone 12 Ultra dan ROG Phone 9 (termasuk varian FE) adalah rilis terbaru.
8. Apakah Asus berencana kembali ke smartphone?
Kemungkinan tidak tertutup sepenuhnya, tergantung kondisi pasar dan strategi masa depan.
9. Apa beda ROG Phone dan Zenfone?
Zenfone cocok buat pengguna umum, sedangkan ROG Phone dirancang khusus untuk gaming.
10. Kapan Asus berhenti produksi ponsel?
Mereka berhenti merilis model baru setelah tahun 2025 2026 dipastikan tidak ada ponsel baru.











